16 Maret 2008

Sudahkah Kita diubah Oleh Salib Kristus?

Bayangkan sebuah gelas yang berisi air putih. Gelas itu kemudian diberi 1 sendok sirup merah. Setelah diudak beberapa saat, pastilah air di dalam gelas itu segera berubah berwarna merah.

Bayangkan gelas itu adalah kita dan sirup merah itu adalah SALIB KRISTUS yang berlumuran darah penebusanNya. Apakah kita segera berubah menjadi merah atau apakah hidup kita segera diubah oleh SALIB KRISTUS itu?

Sesungguhnya SALIB KRISTUS mengubah cara kita menjalani hidup dan menghadapi tantangan hidup ini. SALIB KRISTUS bukanlah sebuah pertunjukan sulap yang hidup manusia menjadi penuh kemewahan, sukacita dan bebas dari penderitaan. Selama kita hidup, sukacita-kesusahan; sehat-sakit;bahagia-dukacita; dan persahabatan-permusuhan akan menjadi bagian hidup kita.

Tapi SALIB KRISTUS cara menjalani hidup dan menghadapi tantangan hidup. Mereka yang menerima SALIB KRISTUS tapi tidak diubah oleh Salib itu lebih mudah menyerah pada keadaan dan takluk pada emosi/hawa napsu duniawi. Hidupnya lebih banyak diwarnai dengan keputusasaan serta dendam.

Sementara, mereka yang diubah oleh SALIB KRISTUS lebih dapat mengendalikan diri/sabar, mengampuni dan senantiasa memiliki pengharapan dalam Kristus.

Bagaimana kita dapat diubah oleh SALIB KRISTUS itu?

Pertobatan, penyerahan dan membuka diri pada karya Pengampunan Allah dalam SALIB KRISTUS yang diwujudkan dalam penghayatan kita yang sungguh dalam Perjamuan Kudus JUMAT AGUNG serta PASKAH dapat menjadi awal kita diubah oleh-NYA

Pdt. Wahyu Nugroho

09 Maret 2008

“Ketaatan Yang Membawa Berkat”

Bahan : Lukas 5 : 1 – 10

Nats : ayat 5

“….. dan akhirnya mereka hidup berbahagia untuk selamanya” demikian kalimat yang biasanya dipakai untuk menutup sebuah kisah di dalam dongeng Cinderella, Putri Salju, dsb. Saudara, kalau kita mengamati kehidupan manusia terlebih saat – saat ini, banyaklah yang dapat mengalami kebahagiaan seperti yang ada dalam dongeng – dongeng ini ? Jawabnya tentu sedikit sekali orang yang dapat mengalami kebahagiaan seperti yang ada di dalam dongeng – dongeng tersebut, namanya juga dongeng. Terlebih di saat – saat sulit seperti sekarang ini. Biaya hidup sehari – hari semakin meningkat, sedangkan pendapatan sulit bertambah.

Dalam situasi seperti ini ada dua kelompok manusia : kelompok yang pertama, adalah kelompok orang yang menyikapi situasi ini dengan cara bekerja keras, membanting tulang, tidak mengenal waktu terus bekerja dan bekerja. Tetapi juga ada kelompok yang kedua, orang – orang yang takut hidup menderita, takut capek kalau bekerja keras. Maunya hidup santai, enak tapi punya uang banyak. Kebanyakan orang – orang ini kemudian lebih sering mengambil jalan – jalan pintas menuju kesuksesan duniawi.

Dalam perikop yang kita baca tadi kita juga membaca sebuah kisah tentang para nelayan di pantai Genesaret, yang juga mengalami situasi yang sulit. Bekerja semalam suntuk tanpa hasil. Tetapi ada satu hal yang menarik perhatian kita dari kisah ini, ketika dalam kondisi lelah dan suntuk, Simon ( yang pada saat itu masih menjadi seorang nelayan ) bersedia untuk menyiapkan perahunya bagi Yesus yang akan mengajar orang banyak. Melalui hal itu Simon dipakai menjadi saluran berkat bagi orang banyak yang membutuhkan pengajaran Yesus. Simon tidak mengeluh atau berharap untuk mendapat imbalan apapun dari Yesus.

Akan tetapi Yesus mengerti kesulitan yang saat itu dihadapi oleh Simon, maka Ia memberikan perintah kepada Simon untuk kembali bertolak ke tengah danau, jangan menyerah. Jawaban Simon di ayat 5 menjadi tanda bukti kepercayaan dan ketaatan Simon kepada kuasa Yesus. Iman dan ketaatan Simon ini tidak sia – sia.

Dalam situasi yang berat dan sulit seperti saat ini, mari belajar dan meneladan kepada Simon Petrus, yang rela dipakai oleh Tuhan untuk menyatakan kehendakNya. Taat dan setia kepada Tuhan. Ketaatan dan kesetiaan yang berangkat dari iman yang kuat akan kasih dan kuasa Tuhan Yesus. Percayalah ketaatan kita kepada Tuhan akan mendatangkan berkat – berkatNya di dalam kehidupan kita.

Tuhan memberkati, Amin.

Oleh : Pdt. Nike Lukitasari Ariwidodo

02 Maret 2008

Sakramen Perjamuan.

Matius 26 : 29

Jika kita perhatikan, perjamuan malam sesaat sebelum Yesus ditangkap, menjadi kenangan terakhir Yesus dengan para murid. Di saat yang terakhir dengan kenangan yang tak terulang lagi bersama Yesus itu, telah diletakkan dasar bagi pemeliharaan keimanan. Perjamuan itu kini bagi gereja menjadi tempat di mana gereja mengingat dan mempersekutukan dirinya dengan tubuh dan darah Kristus. Perjamuan kudus menjadi undangan sukacita Kristus bagi jemaat-Nya. Perjamuan ini mendekatkan jemaat pada dimensi pemeliharaan iman. Sebagai pemeliharaan iman (dalam Pokok-pokok Ajaran GKJ) Perjamuan Kudus/Sakramen Perjamuan dikandung maksud:

  1. Roti dan anggur sebagai lambag tubuh dan darah Tuhan Yesus menunjuk dan mengingatkan bahwa penyaliban dan kematian Tuhan Yesus adalah dasar penyelamatan bagi manusia.
  2. Sakramen Perjamuan menunjuk dan mengingatkan bahwa orang-orang percaya merupakan keluarga Allah.
  3. Sakramen Perjamuan menunjuk dan mengingatkan ke perjamuan yang sempurna di sorga sebagai kesempurnaan keselamatan.
  4. Sakramen Perjamuan menunjuk dan mengingatkan pemberitaan tentang kematian Tuhan Yesus sampai Ia datang.

Mengingat pentingnya Sakramen itu, maka wajib bagi kita semua dengan sikap takut dan hormat, pakering, dalam menerima dan memperlakukannya. Kesukacitaan itu kini ditawarkan oleh Tuhan dan dengan kerendah hati manusia yang menyambutnya. Agar dengan demikian iman kita disegarkan dan kehidupan kita semakin dibangun.

Pdt. Tanto Kristiono.

24 Februari 2008

MENGAMPUNI KESALAHAN SESAMA

“Tetapi jika kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu”

( Matius 6 : 15 )

Salah satu perintah Tuhan Yesus bagiNya adalah “mengampuni kesalahan sesama”. Apabila kita tidak mengampuni kesalahan orang lain, maka Tuhan juga tidak akan mengampuni kesalahan kita. Demikianlah pentingnya mengampuni kesalahan sesama.

Ada sebuah kisah dari Spanyol tentang seorang ayah dan anaknya yang bertengkar. Karena pertengkaran tersebut maka sang anak kabur dari rumah. Kepergian sang anak ini membuat sang ayah menyesal. Kemudian sang ayah berusaha mencari sang anak, tetapi tidak ditemukannya. Sampai akhirnya ditengah – tengah keputus – asaannya sang ayah memasang iklan di suatu surat kabar. Dalam iklan itu dituliskan : Paco terkasih, temuilah aku di depan kantor surat kabar ini hari Sabtu siang. Semua kesalahanmu sudah kumaafkan. Ayah menyayangimu. Dari ayahmu. Apa yang terjadi ? Di Sabtu siang itu ada 800 orang bernama Paco berkumpul di depan kantor surat kabar itu untuk mencari pengampunan dan kasih saying dari ayah mereka.

Begitulah banyaknya orang yang menantikan pengampunan dan kata maaf dari orang – orang yang mereka kasihi. Apabila kata maaf lebih banyak diucapkan, mungkin dunia ini akan menjadi sangat indah. Demikian juga gengsi kita singkirkan jauh – jauh dan kita mau dengan rendah hati memberikan pengampunan, kita akan bisa menikmati sisa hidup ini dengan kedamaian di hati. Namun betapa banyak orang yang menahan kata maaf demi harga diri. Sehingga setelah semuanya terlambat, hanyalah penyesalan yang terjadi.

Apakah sampai saat ini kita masih menahan kata maaf bagi sesama kita ? Jangan menunda mengampuni. Jangan menunggu sesama kita berubah menjadi layak untuk menerima pengampunan. Karena Tuhan Yesus telah melakukan pengampunan kepada kita yang semestinya tidak layak di hadapanNya. Mari kita bersedia mengampuni. Amin.

Oleh : Pnt. Chornelius Ayupanta,BA

17 Februari 2008

ANTARA DOSA, PENGAMPUNAN DAN HIDUP KITA

Dalam minggu – minggu ini sampai minggu menjelang Paskah kita diajak untuk menghayati kekuatan Jalan Salib Kristus yang mendatangkan pengampunan. Hanya saja sering kali hidup kita yang diampuni itu tidak sejalan dengan pengampunan Tuhan.

Seorang warga di sebuah gereja melakukan kesalahan. Maka para majelis di gereja tersebut segera berkumpul untuk memutuskan sanksi apa yang akan dijatuhkan kepada warga tersebut. Mereka juga mengundang pendeta untuk hadir, tetapi pendeta itu menolak. Lalu ketua majelis menyuruh seorang majelis untuk mengatakan kepada pendeta, “Datanglah segera, karena semua orang sedang menunggumu.”

Maka pendeta itu bangkit dan pergi. Ia mengambil sebuah kendi bocor. Mengisinya dengan air dan berangkat ikut rapat. Orang – orang keluar untuk menemuinya dan bertanya, “Apa ini, pendeta ?”

Pendeta itu menjawab, “Dosa – dosaku berceceran di belakangku dan aku tidak melihatnya. Dan hari ini aku malah datang untuk menghakimi kesalahan orang lain.” Mendengar itu, orang – orang yang hadir tidak mengatakan apa – apa lagi kepada warga yang melakukan kesalahan itu dan mereka segera memaafkannya.

Marilah kita jalani masa – masa Pra – Paskah dengan kemauan untuk intropeksi diri.

Oleh : Pdt. Wahyu Nugroho

10 Februari 2008

TAKUT AKAN TUHAN

Bacaan : Mazmur 112 : 1 – 10

Nats : ayat 1

Sudah sering kali umat Tuhan diingatkan agar takut akan Tuhan. Takut akan Tuhan bukanlah takut seperti kita menghadapi hantu atau menghadapi sesuatu yang membuat bulu kuduk kita berdiri. Tetapi takut akan Tuhan ialah satu sikap iman yang menghormati Tuhan atas kasih dan kebaikanNya yang telah kita terima. Maka nyata bahwa takut akan Tuhan adalah syarat mutlak yang tidak dapat ditawar lagi dalam kehidupan orang Kristen. Sebab bila orang Kristen sudah tidak punya rasa takut akan Tuhan maka ia akan berani melakukan hal – hal yang jahat bahkan dapat lebih jahat dari kelakuan orang fasik.

Tuhan telah memberikan perintah dan hukumNya pada manusia dan ini bukan karena Tuhan itu sok kuasa atau Tuhan itu ingin menyengsarakan manusia. Tetapi dia ingin supaya manusia yang taat dan takut akan Tuhan ini dituntun untuk menerima hidup yang berbahagia. Seperti yang dijanjikan Tuhan dalam nats kita pada saat ini.

Ada banyak kehancuran hidup orang percaya yang diawali dari sikap hidup yang tidak mau taat dan takut akan Tuhan. Orang – orang ini biasanya hanya takut dengan adanya sanksi atau hukuman saja dan bukan karena mereka benar – benar percaya akan kekuasaan Tuhan yang dapat mengetahui setiap jalan hidup yang ditempuh oleh manusia. Sehingga ketika mereka tidak melihat adanya sanksi atau hukuman secara langsung, maka saat itulah mereka merasa memiliki kesempatan untuk berbuat dosa.

Tetapi saat ini kita boleh mendengar pengajaran dari pemazmur : berbahagialah orang yang takut akan Tuhan yang suka akan segala perintahNya. Anak cucunya akan perkasa di bumi, angkatan orang benar akan terberkati.

Kita adalah orang – orang telah terberkati karena kita diperbolehkan mendengar dan menerima janji yang indah dari Tuhan ini. Dan janji ini akan benar – benar menjadi bagian dalam hidup kita jika kita mau taat dan takut akan Tuhan. AMIN.

Oleh : Pdt. Nike Lukitasari Ariwidodo

03 Februari 2008

Pembatinan Kristiani

Bacaan : II Tawarikh 7 : 18

Kata pembatinan pada judul di atas tidaklah sama dengan kebatinan ataupun aliran kepercayaan. Jangan alergi dengan istilah pembatinan ini. Sebab pada hakikatnya perenungan, doa, meditasi ataupun kontemplasi tentulah menggunakan wilayah pembatinan. Pembatinan dalam renungan singkat ini mendasarkan pada apa yang dijadikan refleksi Daud, ketika Daud dikukuhkan oleh Tuhan dengan berkat dan janjiNya. Daud merasa bahwa apa yang telah dicapainya selama ini bukan karena hasil jerih lelah dan perjuangannya, apa lagi jasa kepahlawanannya bagi Israel.

Tidak ada dalam batin Daud untuk mengakui dirinya sebagai penentu atas keadaan Israel. Hanya Tuhan Allah yang membuat dirinya menjadi orang nomor satu di Israel dan membawa Israel pada puncak kejayaannya.

Upaya mengakui Tuhan dalam diri kita agaknya hal yang sudah seharusnya kita tanyakan ulang. Kita menjadi yang sekarang ini bisa jadi lebih sering diakui karena jasa kita sendiri. Dan jika kita menggunakan alasan pekerjaan ataupun pelayanan kita itu, jika ada yang mengritik atau kita tidak dipakai lagi, bisa diduga akan sakit, ini merupakan indikasi bahwa yang menjadi orientasi pekerjaan dan pelayanan kita itu adalah diri kita sendiri. Apalagi jikalau ada ambisi sebaik apapun alasan itu bisa tidak jujur dan bisa berubah di tengah jalan. Banyak orang seakan mengagungkan kata pelayanan, tetapi jika kita jujur sebenarnya siapa yang kita layani? Tuhan, orang lain/sesama atau diri sendiri?

Daud dengan segala kejayaannya, dan keagungannya pun menempatkan Tuhan sebagai yang membuat segalanya bisa seperti itu. Sikap Daud tersebut menjadi sebuah teladan yang amat baik bagi kita agar kita pun memiliki pengakuan Tuhan yang memberikan semuanya ini. Sehingga kita tidak jatuh dalam kesombongan

Hal yang paling sulit dalam diri kita yakni mengakui kekurangan diri sendiri. Karena telah lama kita mendemonstrasikan kepandaian kita, kita biasa mendikte orang lain, terbiasa memamerkan kemampuan diri lupa bahwa kita sebenanrnya terbatas, ada banyak kekurangan, tetapi semua itu sudah terlanjur jauh kita timbun dengan kesombongan diri sendiri.

Pembatinan kristiani memungkinkan orang sampai pada pengakuan atas keadaan yang sebenarnya pada diri sendiri, dan keadaan yang dijumpai itu adalah diri sendiri yang sesungguhnya di hadapan Tuhan tidak ada artinya, sehingga seperti Daud, “siapakah aku ini Tuhan?”

Oleh : Pdt. Tanto Kristiono.